Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

ProposalQ


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Kekurangan energi kronik (KEK) pada ibu hamil yang ditandai dengan lingkar lengan atas < 23,5  cm adalah salah satu masalah gizi  nasional yang selalu mendapat prioritas atau perhatian karena selain prevalensinya masih tinggi dan bersifat fenomena gunung es (ice hild fenomena) juga menberikan dampak tingginya prevalensi bayi lahir  rendah, bayi lahir premature (tidak cukup bulan), bahkan mengakibatkan tingginya kematian neonatal,  neonatal dan kematian ibu, sedangkan bayi berat badan lahir rendah.
Menurut data WHO, sebanyak 99 persen kematian ibu akibat masalah persalinan atau kelahiran terjadi di negara-negara berkembang. Rasio kematian ibu di negara-negara berkembang merupakan yang tertinggi dengan 450 kematian ibu per 100 ribu kelahiran bayi hidup jika dibandingkan dengan rasio kematian ibu di sembilan negara maju dan 51 negara persemakmuran. (WHO, 2011)
Disparitas kematian ibu antar wilayah di Indonesia masih cukup besar dan masih relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara anggota ASEAN misalnya resiko kematian ibu karena melahirkan di Indonesia adalah 1 dari 65, dibandingkan dengan 1 dari 1.100 di Thailand. Pada tahun 2002 angka kematian ibu (AKI) di Indonesia angka 307 per 100.000 kelahiran hidup. Dari lima juta kelahiran yang terjadi di Indonesia setiap tahunnya, diperkirakan 20.000 ibu meninggal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan. (Yulia, 2009)
Di Indonesia banyak terjadi kasus KEK (Kekurangan Energi Kronis) terutama yang kemungkinan disebabkan karena adanya ketidak seimbangan asupan gizi, sehingga zat gizi yang dibutuhkan tubuh tidak tercukupi. Hal tersebut mengakibatkan pertumbuhan tubuh baik fisik ataupun mental tidak sempurna seperti yang seharusnya. Banyak anak yang bertubuh sangat kurus akibat kekurangan gizi atau sering disebut gizi buruk. Jika sudah terlalu lama maka akan terjadi Kekurangan Energi Kronik (KEK). Hal tersebut sangat memprihatinkan, mengingat Indonesia adalah negara yang kaya akan SDA (sumber daya alam). (Chinue, 2009)
Dari data SUSENAS pada tahun 1999 menunjukkan bahwa status gizi pada WUS yang menderita KEK (LILA < 23.5 cm) sebanyak 24.2 %. Hasil analisis IMT pada 27 ibukota propinsi menunjukkan KEK pada wanita dewasa (IMT< 18.5) sebesar 15.1 %. (Raden, 2009)
Data SDKI tahun 1997 angka kematian bayi adalah 52.2 per 1000 kelahiran hidup dan dari data SDKI tahun 1994 angka kematian ibu adalah 390 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan dari data Susenas pada tahun 1999, ibu hamil yang mengalami risiko KEK adalah 27.6 %. (Khansima, 2010)
Di Sulawesi Selatan persentase WUS yang mempunyai resiko KEK sebesar 17,5%. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Timur Indonesia masih memeperlukan perhatian yang lebih besar dalam upaya peningkatan gizi masyarakat. Jenis dan besaran masalah gizi di Indonesia tahun 2001-2003 menunjukkan 2 juta ibu hamil menderita anemia gizi, 300 ribu BBLR setiap tahun, 5 juta balita gizi kurang, 8,1 juta anak setiap tahun dan 3,5 juta remaja dan wanita usia subur menderita anemia gizi besi, dan 30 juta kelompok usia produktif KEK. (Depkes, 2011)
Data yang bersumber dari Bidang Bina Kesehatan Masyarakat menunjukkan terjadinya penurunan KEK khususnya pada Ibu Hamil (Bumil). Pada tahun 2006 tercatat 3,06 % Bumil KEK, jumlah tersebut menurun pada tahun 2007 dimana KEK menjadi 2,5 %. Hal ini ditunjang oleh pelayanan kesehatan yang baik, asupan gizi yang membaik, serta peran aktif dari kader-kader gizi yang ada di Kota Makassar. (Profil Dinkes Kota Makassar, 2010)
Berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari Puskesmas Somba opu Kab Gowa. Yang menderita KEK pada ibu hamil terdapat sebanyak 134 orang pada tahun 2011 dan kemudian pada tahun 2012 mulai bulan januari sampai bulan maret sebanyak 50 orang jadi jumlah keseluruhan sebanyak 184 orang.(Puskesmas Somba Opu 2011)
Berdasarkan uraian di atas penelliti sangat tertarik untuk meneliti hubungan antara pengetahuan ibu, frekuensi makan, asupan makanan, jarak kehamilan dengan KEK pada ibu hamil.
B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas rumusan masalah dikemukakan sebagai berikut:
1.    Apakah pengetahuan ibu berhubungan dengan kejadian KEK pada ibu hamil di Puskesmas Somba Opu tahun 2012 ?
2.    Apakah frekuensi makan berhubungan dengan kejadian KEK pada ibu hamil di Puskesmas Somba Opu tahun 2012 ?
3.    Apakah asupan makanan berhubungan dengan kejadian KEK pada ibu hamil di Puskesmas Somba Opu tahun 2012 ?
4.    Apakah jarak kehamilan berhubungan dengan kejadian KEK pada ibu hamil di Puskesmas Somba Opu tahun 2012 ?
C.   Tujuan Penelitian
1.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian KEK pada ibu hamil di Puskesmas Somba Opu tahun 2012.
2.    Tujuan Khusus
a.    Untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan kejadian KEK pada ibu hamil
b.    Untuk mengetahui hubungan frekuensi makan dengan kejadian KEK pada ibu hamil
c.    Untuk mengetahui hubungan asupan makanan dengan kejadian KEK pada ibu hamil
d.    Untuk mengetahui hubungan jarak kehamilan dengan kejadian KEK pada ibu hamil
D.   Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.  Manfaat Institusi
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan masukan kepada Puskesmas Somba Opu untuk lebih memperhatikan masalah KEK Pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas itu sendiri.
2.  Manfaat Praktis
Penelitian ini menjadi pengalaman berharga dalam memperluas wawasan dan pengetahuan tentang KEK Pada ibu hamil serta dapat menerapkan ilmu yang diperoleh selama mengecam pendidikan.
3.  Manfaat Ilmiah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan dapat menjadi bahan bacaan atau referensi bagi peneliti-peneliti selanjutnya.
 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.   Tinjauan Umum Tentang KEK
1.    Pengertian  kurang Energi Kronik (KEK)
Kurang Energi Kronik ( KEK) adalah keadaan kekurangan energi dalam waktu lama pada wanita usia subur (WUS) dan ibu hamil yang ditandai dengan ukuran lingkar lengan atas (LILA) 23,5 cm (Anonim, 2006).
Kekurangan Energi Kronik (KEK) adalah keadaan ibu hamil yang menderita kekurangan makanan yang berlangsung menahun (kronis) sehingga mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan pada ibu hamil (Budiyanti.W, 2007).
Dari kedua  Pendapat KEK di atas Kekurangan energi kronik merupakan suatu keadaan di mana status gizi seseorang buruk yang disebabkan karena kurangnya konsumsi pangan sumber energi yang mengandung zat gizi makro. Kebutuhan wanita hamil akan meningkat dari biasanya dimana pertukaran dari hampir semua bahan itu terjadi sangat aktif terutama konsumsi pangan sumber energi yang mana zat gizi makro untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan janinnya.
Seorang ibu yang sedang hamil mengalami kenaikan berat badan sebanyak 10-12 kg. pada masa trimester 1 kenaikan berat badan seorang ibu tidak mencapai trimester ke 2 pertambahan berat badan semakain banyak 6 kg. kenaikan tersebut disebabkan karena adanya pertumbuhan janin, plasenta dan air ketuban. Kenaikan berat bada yang ideal untuk seorang ibu yang gemuk yaitu 7 kg dan 12,5 kg untuk ibu yang tidak gemuk, jika berat badan ibu tidak normal maka akan memungkinkan terjadinya keguguran, lahir premature, BBLR, gangguan kekuatan rahim saat melahirkan dan pendarahan setelah persalinan.(Siti Asfuah.2009)
Menurut Depkes RI (2002) dalam Program Perbaikan Gizi Makro menyatakan bahwa Kurang Energi Kronis merupakan keadaan dimana ibu penderita kekurangan makanan yang berlangsung menahun (kronis) yang mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan pada ibu. KEK dapat terjadi pada wanita usia subur (WUS) dan pada ibu hamil (bumil). Kurang gizi akut disebabkan oleh tidak mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang cukup atau makanan yang baik (dari segi kandungan gizi) untuk satu periode tertentu untuk mendapatkan tambahan kalori dan protein (untuk melawan) muntah dan mencret (muntaber) dan infeksi lainnya. Gizi kurang kronik disebabkan karena tidak mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang cukup atau makanan yang baik dalam periode/kurun waktu yang lama untuk mendapatkan kalori dan protein dalam jumlah yang cukup.
 2.    Penyebab KEK pada ibu hamil
Penyebab kurang energi kronik (KEK) adalah akibat dari  tidak seimbangan antara asupan untuk pemenuhan kebutuhan dan pengeluaran energi. Yang sering terjadi adalah adanya ketidaktersediaan pangan secara musiman atau secara kronik di tingkat ruma tangga, distribusi di dalam rumah tangga yang tidak proposional (biasanya seorang ibu mengorbankan dirinya ), dan beratnya beban kerja ibu hamil.(Deptem gizi FKM UI 2008)
Berbagai hasil kajian di Indonesia telah mengakui pentingnya peran seorang ibu dalam membentuk sumber daya manusia yang lebih berkualitas. Pengaruh ibu terhadap kehidupan seorang anak telah dimulai selama hamil, selama masa bayi dan berlanjut terus sampai anak memasuki usia sekolah. Pada waktu hamil gizi sangat penting untuk pertumbuhan janin yang dikandung. Gizi ibu hamil yang baik diperlukan agar pertumbuhan janin berjalan pesat dan tidak mengalami hambatan. Ibu hamil dengan keadaan kurang gizi yang kronis, mempunyai resiko yang lebih besar untuk melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), kematian saat persalinan, perdarahan, pasca persalinan yang sulit karena lemah dan mudah mengalami gangguan kesehatan (Depkes RI, 2009).
Status gizi ibu hamil merupakan salah satu indikator dalam mengukur status gizi masyarakat. Jika masukan gizi untuk ibu hamil dari makanan tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh maka akan terjadi defisiensi zat gizi. Kekurangan zat gizi dan rendahnya derajat kesehatan ibu hamil masih sangat rawan, hal ini ditandai masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) yang disebabkan oleh perdarahan karena anemia gizi dan Kekurangan Energi Kronik (KEK) selama masa kehamilan. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII yang berlangsung di Jakarta 17-19 Mei 2004 menyebutkan bahwa salah satu masalah gizi di Indonesia adalah bahwa masih tingginya Angka Kematian bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) dan balita merupakan akibat  masalah gizi kronis (Moehji, 2008 ).
Bila ibu mengalami kekurangan gizi selama hamil akan menimbulkan masalah, baik pada ibu maupun janin yang dikandungnya, antara lain : anemia, perdarahan dan berat badan ibu tidak bertambah secara normal, kurang gizi juga dapat mempengaruhi proses persalinan dimana dapat mengakibatkan persalinan sulit dan lama, premature, perdarahan setelah persalinan, kurang gizi juga dapat mempengaruhi pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan keguguran, abortus, cacat bawaan dan berat janin bayi lahir rendah (Zulhaida, 2005).
3.    Risiko Kekurangan Energi Kronik (KEK)
Risiko kekurangan energi kronik (KEK) pada ibu hamil cukup tinggi, yaitu sekitar 30 %, sehingga dapat mengakibatkan kejadian bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) sekitar 10 %. Hal ini dilatar belakangi oleh kehamilan dengan satu atau lebih keadaan “ 4 terlalu “, yaitu :
a.      Terlalu Muda ( Usia kurang dari 20 tahun )
b.      Terlalu tua ( Usia lebih dari 45 tahun)
c.      Terlalu sering ( jarak antara kelahiran kurang dari 2 tahun )
d.      Terlalu banyak ( jumlah anak lebih dari 3 orang)
Status gizi ibu sebelum dan selama hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Bila status gizi ibu normal pada masa sebelum dan selama hamil kemungkinan besar akan melahirkan bayi yang sehat, cukup bulan dengan berat badan normal. Dengan kata lain kualitas bayi yang dilahirkan sangat tergantung pada keadaan gizi ibu sebelum dan selama hamil. (Atika Proverawati 2009)
4.    Faktor yang mempengaruhi KEK
Menurut Atikah Proverawati & siti Asfuah (2009) Mengatakan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi keperluan gizi pada ibu hamil di antaranya yaitu:
a.    Kebiasaan dan pandangan wanita terhadap makanan.
      Wanita yang sedang hamil dan telah berkeluarga biasanya lebih memperhatikan akan gizi dari anggota keluarga yang lain, padahal sebenarnya dirinyalah yang memerlukan perhatian yang serius mengenai penambahan gizi, ibu harus teratur dalam mengonsumsi makanan yang bergizi demi pertumbuhan dan perkembangan.
b.    Status ekonomi
      Ekonomi seseorang mempengaruhi dalam pemilihan makanan yang akan di konsumsi sehari-hari, seorang dengan ekonomi yang tinggi kemudian hamil maka kemungkinan besar sekali gizi yang di butuhkan tercukupi di tambah lagi adanya pemeriksaan membuat gizi ibu semakin terpantau.
c.    Pengetahuan zat gizi dalam makanan
      Pengatahuan yang dimiliki oleh seorang ibu akan mempengaruhi dalam pengambilan keputusan dan juga akan berpengaruh pada perilaku, ibu dengan pengetahuan gizi baik, kemungkinan akan memberikan gizi yang cukup bagi bayinya, hal ini terlebih lagi kalau seorang ibu tersebut memasuki masa ngidam, dimana perutnya tidak mau diisi, mua dan rasa tidak karuan, walaupun dalam kondisi yang demikian jika seseorang memiliki pengetahuan yang baik maka ia akan berupaya untuk memenuhi kebutuhan gizinya dan juga bayinya.
d.    Status kesehatan
      Status kesehatan seseorang kemungkinan sangat berpengaruh terhadap nafsu makananya, seorang ibu dalam keadaan sakit otomatis akan memilik nafsu makan yang berbeda dengan ibu yang dalam keadaan sehat, namun ibu harus tetap ingat bahwa gizi yang ia dapat akan di pakai untuk dua kehidupan yaitu bayi dan untuk dirinya sendiri.
e.    Aktifitas fisik
Aktifitas dan gerakan seseorang berbeda-beda, seorang dengan gerak yang aktif otomatis memerlukan energy yang lebih besar dari pada mereka yang hanya duduk diam saja, setiap aktifitas memerlukan energi maka apabial semakin banyak aktifitas yang di lakukan, energy yang di butuhkan juga semakin banyak.
f.     Suhu lingkungan
Pada dasarnya suhu tubu di pertahankan pada suhu 36,5-37 oC untuk metabolisme yang optimal adanya perbedaan suhu dengan lingkungan, maka mau tidak mau tubu harus bias menyesuaikan diri demi kelangsugan hidupnya yaitu tubu harus melepaskan sebagian panasnya dig anti dengan hasil metabolism tubu.
g.    Berat badan
      Berat bada seorang ibu yang sedang hamil akan menentukan zat makananyang di berikan agar kehamilanya dapat berjalan dengan lancer.
h.    Umur
Semakin mudah dan semakin tua umur seorang ibu sedang hamil, akan berpengaruh terhadap kebutuhan gizi yang di perlukan, umur mudah perlu tambaha gizi yang banyak karena selain di gunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan dirinya sendiri juga harus berbagi denga janin yang sedang di kandung.
5.    Klafisifikasi Kekurangan Energi Kronik (KEK)
Kekurangan Energi kronik ditemukan pada remaja putri atau wanita Usia Subur (WUS) dan ibu hamil. Kekurangan energi kronik pada wanita usia subur dapat berdampak pada keadaan kehamilan, dimana jika wanita KEK maka kemungkinan gangguan kehamilan banyak menyertai. Pada ibu hamil kekurangan energi kronik dapat berdampak pada diri ibu dan janin dalam kandungan sampai bayi yang dilahirkan nantinya.
Bila ibu mengalami kekurangan gizi selama hamil akan menimbulkan masalah, baik pada ibu maupun janin, seperti diuraikan berikut ini. ( Menurut Lubis 2008)
a.    Ibu
Gizi kurang pada ibu hamil dapat menyebabkan dan komplikasi pada ibu antara lain: anemia, pendarahan, berat badan ibu tidak bertambah secara normal, dan terkena penyakit infeksi.
b.    Persalinan
Pengaruh gizi kurang terhadap proses persalinan dapat mengakibatkan persalinan sulit dan lama, persalinan sebelum waktunya (premature), pendarahan setelah persalinan, serta persalinan dengan operasi cenderung meningkat.
c.    Janin
Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi, asfiksia intra partum (mati dalam kandungan), lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR).
6.    Pencegahan KEK
Peningkatan variasi makan dan jumlah makanan, oleh karena itu kandungan zat gizi pada setiap jenis makanan berbeda-beda, dan tidak ada satupun jenis makanan yang mengandung zat gizi secara lengkap, maka untuk memenuhi kebutuhan sebagian besar zat gizi di perlukan konsumsi makanan yang beragam. Selain itu karenaa kebutuhan energy dan zat gizi lainnya pada ibu hamil dan ibu menyusui meningkat maka jumlah konsumsi makanan mereka harus di tambah.
Mengurangi beban kerja pada wanita, terutama ibu yang sedang hamil. Berbagai penelitian menunjukan bahwa beban kerja yang berat pada wanita hamil akan memberikan dampak kurang baik terhadap kehamilan.(Deptem Gizi FKM UI 2008).
Agar proses berjalan normal, maka ibu hamil harus menjaga kesehatannya, dengan memperhatikan pola makan, gaya hidup dan aktifitas fisiknya. Gizi yang baik di butuhkan oleh ibu hamil untuk mendukung proses pertumbuhan pertumbuhan organ pendukung proses kehamilan proses metabolism zat gizi, dan mendukung kondisi fetus dan neonates. Ibu hamil yang mengalami kurang gizi akan berakibat pada janin yang di kandungnya juga akan mengalami kekurangan gizi, bayi yang di lahirkan BBLR atau prematur, pendarahan post partum, produksi ASI berkurang bahkan berakhir dengan kematian, serta gangguan kekuatan rahim. (Atika Proferawati. 2010).
7.    Penanggulangan KEK
a.    PMT Ibu hamil diharapkan agar diberikan kepada semua ibu hamil yang ada.
Kondisi KEK pada ibu hamil harus segera di tindaklanjuti sebelum usia kehamilan mencapai 16 minggu. Pemberian makanan tambahan yang Tinggi Kalori dan Tinggi Protein dan dipadukan dengan penerapan Porsi Kecil tapi Sering, pada faktanya memang berhasil menekan angka kejadian BBLR di Indonesia. Penambahan 200 – 450 Kalori dan 12 – 20 gram protein dari kebutuhan ibu adalah angka yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan gizi janin. Meskipun penambahan tersebut secara nyata (95 %) tidak akan membebaskan ibu dari kondisi KEK, bayi dilahirkan dengan berat badan normal. Pada tahun 2007 dilaksanakan PMT bagi bumil gakin di kabupaten/kota melalui dana APBN Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Kegiatan tersebut tidak dilanjutkan pada tahun 2008 karena tidak tersedianya dana dan diharapkan untuk pelaksanaan selanjutnya dibebankan melalui dana APBD kabupaten/kota.
b.    Konsumsi tablet Fe selama hamil.
Kebutuhan bumil terhadap energi, vitamin maupun mineral meningkat sesuai dengan perubahan fisiologis ibu terutama pada akhir trimester kedua dimana terjadi proses hemodelusi yang menyebabkan terjadinya peningkatan volume darah dan mempengaruhi konsentrasi hemoglobin darah. Pada keadaan normal hal tersebut dapat diatasi dengan pemberian tablet besi, akan tetapi pada keadaan gizi kurang bukan saja membutuhkan suplemen energi juga membutuhkan suplemen vitamin dan zat besi. Keperluan yang meningkat pada masa kehamilan, rendahnya asupan protein hewani serta tingginya konsumsi serat / kandungan fitat dari tumbuh-tumbuhan serta protein nabati merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya anemia besi.
B.   Tinjauan Umum Tentang Variabel Penelitian
1.    Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan ibu
(Menurut Yuniar 2008), menyatakan bahwa tingkat pengetahuan  seseorang juga akan mempengaruhi kehidupan sosialnya. Semakin banyak pengetahuan seseorang akan semakin banyak informasi yang diperoleh maka semakin terbuka kesadaran memanfaatkan fasilitas kesehatan.
Pengetahuan merupakan domain dari perilaku. Semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang, maka perilaku akan lebih bersifat langgeng. Dengan kata lain ibu yang tahu dan paham tentang jumlah anak yang ideal, maka ibu akan berperilaku sesuai dengan apa yang ia ketahui (Friedman, 2005).
Pengetahuan yang di miliki oleh seorang ibu akan mempengaruhi dalam pengambilan keputusan dan juga akan berpengaruh pada perilakunya. Ibu dengan pengetahuan gizi baik kemungkinan akan memberikan gizi yang cukup bagi bayinya. Hal ini terlebih lagi kalau seorang ibu tersebut memasuki masa ngidam, di mana perut rasanya tidak mau di isi mua dan rasa tidak karuan. Walaupun dalam kondisi yang demikian jika seseorang memiliki pengetahuan yang baik maka ia akan berupaya untuk memenuhi kebutuhan gizinyadan juga bayinya. (Atika Proferawati. 2009)
(Menurut Hapni 2004) Bahwa pengetahuan mempunyai pengaruh nyata terhadap kesehatan ibu hamil melalui usia perkawinan dan pengetahuan akan gejala kehamilan dengan risiko tinggi. Hardinsyah (2000) menyatakan bahwa semakin banyak pengetahuan ibu hamil atau suami akan semakin rendah kejadian KEK pada ibu hamil dengan asumsi bahwa semakin banyak pengetahuan suami/istri biasanya diikuti dengan meningkatnya pendapatan keluarga termasuk kesehatan atau gizi ibu hamil pada perhatian terhadap istri yang hamil semakin meningkat.
(Menurut Ichwanudin 2006 )menyatakan bahwa pengetahuan itu dapat memperbaiki cara penggunaan sumber daya keluarga, sehingga akan berdampak positif terhadap kelangsungan hidup keluarga, salah satunya dalam perawatan ibu hamil. Ibu dengan pengetahuan luas tidak banyak dipengaruhi oleh praktik tradisional yang merugikan terhadap ibu hamil dan kualitas maupun kuantitas makanan untuk konsumsi setiap harinya.
2.    Tinjauan Umum Tentang Frekuensi Makan 
Frekuensi makan adalah banyaknya kesempatan yang di gunakan oleh setiap ibu hamil dalam mengonsumsi makanan seperti makanan pokok (Nasi, ubi, jagung, sagu), lauk pauk, sayur dan buah.
Dibeberapa daerah di Asia Tenggara umumnya makan satu dua kali sehari, kalau hanya satu kali makan setiap hari, maka konsumsi pangan terutama bagi anak-anak mungkin sekali kurang  dan dapat berakibat buruk pada status gizinya. Kebiasaan makan di pengaruhi oleh beberapa factor,(lingkungan alam, ekonomi, social budaya dan agama) dan factor insitrisik (emosional, jasmaniah serta penilaian terhadap makanan).


Keadaan pangan merupakan factor yang sangat berpengaruh terhadap status gizi ibu hamil, keluarga serta masyarakat. Kebiasaan makan (food habits) adalah pengembangan anak sampai masa remaja , sehingga membentuk pola makan yang bersifat tetap, keadaan ini di pengaruhi oleh factor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya (Nizel Abraham E 1981)
Tinjauan penataan gizi pada ibu hamil adalah untuk menyiapkan
a.    Cukup kalori, protein yang bernilai biologi tinggi, vitamin, mineral, dan cairan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi ibu, jani, serta plasenta.
b.    Makanan padat kalori membentuk lebih banyak jaringan tubuh bukan lemak.
c.    Cukup kalori dan zat gizi untuk memenuhi pertambahan berat baku selama hamil.
d.    Perencanaan perawata gizi yang memungkinkan ibu hamil untuk memperoleh dan mempertahankan status gizi optimal sehingga dapat menjalani kehamilan dengan aman dan berhasil, melahirkan bayi dengan potensi fisik dan mental yang baik dan memperoleh cukup energy untuk menyusui serta merawat bayi kelak.

e.    Perawatan gizi yang dapat mengurangi atau yang menghilangkan reaksi yang tidak diinginkan, seperti mua dan muntah.
f.     Perawata gizi yang dapat membantu pengobatan penyulit yang terjadi selama kehamilan.
g.    Mendorong ibu hamil sepanjang waktu untuk mengembangkan kebiasaan makan yang baik yang dapat di ajarkan pada anaknya selama hidup.

   3.    Tinjauan Umum Tentang Asupan Makanan
a.    Definisi Asupan Makanan
Asupan adalah banyaknya makanan yang di konsumsi oleh individu pada setiap kali makan. Semakin banyak pula makanan yang mengadung jenis-jenis zat yang dibutuhkan oleh tubuh.
Makanan adalah kebutuhan dasar manusia karna makanan banyak mengandung zat gizi yang sangat penting untuk hidup. Seringkali kita keliru bahwa jika kita makan berarti tubuh kita sudah cukup menerima makanan. Padahal sebenarnya, makanan hanyalah sebagai alat pembawa zat gizi yang penting bagi tubuh kita. Namun, perlu diingat juga bahwa tidak selamanya makanan yang kita makan mengandung zat gizi yang kita butuhkan. (Dieta Nurrika Dan Kamaluddin Latief, 2007)
Asupan makanan seimbang adalah hal mendasar bagi tumbuh kembang optimal bayi dalam kandungan. Sebagai salah satu komponen pembentukan sel, zat-zat yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsi ibu berperan dalam pembentukan sistem saraf dan hormon. Mari lihat rambu-rambu untuk memilih makanan yang tepat semasa hamil.
Asupan makanan ibu hamil adalah kebiasaan ibu hamil dalam mengkonsumsi jumlah makanan yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat-zat Gizi dalam waktu cukup lama.
b.    Metode pengukuran konsumsi untuk individu
1)     Metode Food Recall 24 Jam
Prinsip dari metode recall 24 jam, dillakukan dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu.
2)    Estimed food records
Metode ini juga disebut diary records yang digunakan untuk mencatat yang dikonsumsi. Pada metode ini responden diminta untuk mencatat semua apa yang dimakan dan minum setiap kali sebelum makan dalam ukuran RT (URT) atau menimbang dalam ukuran berat (gram) dalam periode tertentu (2-4 hari berturut-turut). Termasuk cara persiapan dan pengolahan makanan tersebut.
3)    Penimbangan Makanan
Pada metode penimbangan makanan responden atau petugas menimbang dan mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi responden selama 1 hari. Penimbangan makanan inni biasannya berlangsung beberapa hari tergantung dari tujuan, dana peneliatan dan tenaga yang tersedia.
4)    Metode Riwayat Makanan
Metode ini bersifat kualitatif karena mmberikan gambaran pola konsumsi berdasarkan pengamatan dalam waktu yang cukup lama (bisa 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun)
5)    Metode Frekuensi Makan
Metode frekuensi makan adalah untuk memperoleh data tentang frekuensi konsumsi sejumlah bahan makanan atau makanan jadi selama periode tertentu seperti hari, minnggu, bulan atau tahun. Selain itu dengan metode frekuensi makan dapat memperoleh gambaran pola konsumsi bahan makanan secara kualitatif.
c.     Pemilihan Metode Pengukuran Konsumsi Makanan
Penilitian ini menggunakan metode food recall 24 jam untuk mengetahui asupan makanan pada responden dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi dalam dalam periode 24 jam yang lalu.
Penelitian ini menggunakan metode food recall 24 jam untuk mengetahui asupan makanan pada responden dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi dalam dalam periode 24 jam yang lalu.
d.    Pemilihan Metode Pengukuran Konsumsi Makanan
Penilitian ini menggunakan metode food recall 24 jam untuk mengetahui asupan makanan pada responden dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi dalam dalam periode 24 jam yang lalu.
1)    Langkah-langkah pelaksanaan metode recall 24 jam
a)    Petugas atau pewawancara menanyakan kembali dan mencatat semua makanan dan minuman yang dikonsumsi responden dalam ukuran rumah tangga.
b)    Menganalisis bahan makanan ke dalam zat gizi dengan menggunakan daftar komposisi bahan makanan (DKBM).
c)    Membandingkan dengan daftar kecukupan gizi yang dianjurkan (DKGA) atau angaka kecukupan gizi (AKG) untuk Indonesia.
d)    Metode pengukuran konsumsi makanan untuk individu pada recall 24 jam.
1.    Menghitung BBM (berat Bahan Makanan) dengan rumus
 BB
BBM =                X 100
                                                 BJDD
2.    Menghitung BK (Berat Kotor) bahan makanan dengan rumus:
BK
BB =              X BJDD
                                             100

3.    Menghitung Kalori  (energi) setiap bahan-bahan dengan rumus
  BB x Call. Bahan makanan
Cal =                                                          X 100
                                                                                100     
4.    Menghitung E recall 24 jam dengan rumus : E recall 24 jam = jumlah cal. Pagi + jumlah cal. Makanan siang + jumlah cal. Makanan malam AKG
2)    Rumus yang dipakai dalam penentuan asupan makanan yaitu:
                BB/ U ( pada saat pengukuran )
 AKG Individu =                                                        X E (AKG)
                                                                     AKG Individu
Selanjutnya pencapaian AKG (tingkat konsumsi energi) untuk individu tersebut adalah:
E recal 24 jam
                                      X 100%
                                AKG Individu
Dengan klasifikasi penentuan asupan makanan:
a)    Baik              : ≥ 100%
b)    Sedang        : 80% - 99%
c)    Kurang         : 70% - 80%
d)    Defisit           : < 70%


4.    Tinjauan Umum Tentang Jarak Kehamilan
Jarak kehamilan adalah suatu pertimbangan untuk menentukan kehamilan yang pertama dengan kehamilan berikutnya. (Depkes RI, 2000)
Jarak kehamilan adalah jarak atau waktu antara kehamilan terakhir dengan kehamilan yang berlangsung. Kehamilan pada usia remaja, jarak anak yang rapat dan banyak akan meningkatkan kematian ibu dan bayi. Seorang wanita memerlukan 2 sampai 3 tahun antara kehamilan agar pulih secara fisiologik dari suatu kehamilan dan persalinan. Makin pendek jarak antara kehamilan maka makin besar pula resiko kematian ibu dan anak, terutama jika jarak tersebut kurang dari 2 tahun dapat terjadi komplikasi dalam kehamilan (Lukman halim 1998) 
Ibu membutuhkan energi dan gizi lebih banyak selama kehamilan dan menyusui, sehingga bila terjadi siklus kehamilan dan menyusui dalam interval waktu yang pendek pada kondisi dimana intake makanan relatif jelek akan menyebabkan status gizi ibu kurang  (Winarno. 1990).
Sejumlah sumber mengatakan bahwa jarak ideal kehamilan sekurang-kurang 2 tahun. Menurut Ahmad Rofiq (2008 ) proporsi kematian banyak terjadi pada ibu dengan prioritas 1-3 anak dan jika melihat menurut jarak kehamilan ternyata jarak kurang dari 2 tahun menunjukan proporsi kematian maternal lebih banyak. Jarak kehamilan yang terlalu dekat menyebabkan ibu mempunyai waktu singkat untuk memulihkan kondisi rahimnya agar bisa kembali ke kondisi sebelumnya pada ibu hamil dengan jarak yang terlalu dekat beresiko terjadi KEK, Anemi dalam kehamilan karena cadangan zat besi ibu hamil pulih, akhirnya terkurang untuk keperluan janin yang di kandungnya.
Pengaturan kehamilan merupakan salah satu cara untuk menurunka tingkai kematian ibu dan anak yang akan di lahirkan, makin pendek atau rapat jarak antara kehamilan, maka semakin besar pula risiko kematian untuk ibu dan anak.
 
BAB III
KERANGKA KONSEP
A.   Dasar Pemikiran Variabel yang diteliti
1.    Pengetahuan Ibu
Tingkat pengetahuan merupakan hasil tahu dari setiap individu yang diperoleh melalui pengamatan terhadap objek dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan kesehatan siswa pada hakiakatnya adalah suatu kegiatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan adanya pesan tersebut maka diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilaku.
2.    Frekuensi Makan
            Keadaan konsumsi pangan merupakan factor yang sangat berpengaruh langsung terhadap status gizi ibu hamil, keluarga serta masyarakat. Kebiasaan makan (food habits) adalah pengembangan bentuk pengalaman makan yang di mulai pada masa kanak-kanak sampai masa remaja, sehingga membentuk pola makan yang bersifat tetap, keadaan ini di pengaruhi oleh factor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
3.    Asupan Makanan
Asupan makanan adalah kebiasaan seseorang dalam mengkonsumsi jumlah makanan untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat-zat gizi dalam waktu yang cukup lama berpengaruh terhadap status Gizi ibu hamil yang akan berdampak pada kejadian KEK.
4.    Jarak Kehamilan
Jara kehamilan adalah jarak antara kehamilan dengan kelahiran terakhir pada ibu hamil, jarak kehamilan yang terlalu dekat merupakan sala satu fakto risiko tinggi bagi ibu hamil dengan kehamilan berikutnya pada jarak waktu yang berdekatan. Hal ini di sebabkan karena setelah melahirkan rahim memerlukan waktu yang lama untuk pemulihan sebelum terisi lagi oleh janin. Jarak kehamilan yang pendek secara langsung akan memberikan efek terhadap kesehatan ibu maupun janin yang di kandungnya.setiap kehamilan menyebabkan cadangan unsure-unsur gizi berkurang, oleh karena itu untuk setiap akhir kehamilan di butuhkan waktu 2 tahun unrtk mengembalikan jumlah cadangan unsure-unsur gizi ketingkat normal dengan syarat tenggang waktu tersebut kondisi kesehatan dan mutu makanan yang baik.
 
B.   Pola Pikir Variabel yang Diteliti


 












Keterangan :
                            : Variabel yang diteliti
                                   : Variabel yang tidak diteliti

C.   Defenisi Operasional Dan Kriteria Objektif

1.    KEK Pada Ibu Hamil
KEK merupakan suatu keadaan dimana status gizi seseorang buruk yang disebabkan karena kurangnya konsumsi pangan sumber energi yaitu karbohidrat, protein dan lemak, melalui pengukuran LILA.

Kriteria Objektif ;
KEK               : Apabila hasil pengukuran LILA < 23,5 cm
Tidak KEK    : Apabila hasil pengukuran LILA ≥ 23,5 cm
2.    Pengetahuan Ibu
Pengetahuan ibu yang dimaksud dalam penelitian ini adalah melihat bagaimana persepsi atau apa- apa yang diketahui oleh ibu tentang KEK.
Kriteria Objektif :
Cukup        : Bila total jawaban ibu yang benar ≥ 60 , % dari total nilai jawaban dari seluruh pertanyaan.
Kurang       : Bila total jawaban ibu yang benar < 60 % dari total nilai jawaban dari seluruh pertanyaan.
3.    Frekuensi Makan
Frekuensi makan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kebiasaan seseorang dalam mengonsumsi makanan sehari-hari di tinjau dari jumlah makannya atau beberapa kali makan dalam sehari untuk memenuhi berbagai zat gizi lainya.
Kriteria  Objektif
Cukup          : Apabila frekuensi makan ≥ 3 kali sehari
Kurang         : Apabila frekuensi makan < 3 kali sehari
4.    Asupan Makanan
Asupan makanan yang di maksud dalam penelitian ini adalah banyaknya makanan yang di konsumsi oleh ibu hamil setiap kali penyajian sesuai jadwal pemberian makanan. Dalam penelitian ini asupan makanan memakai metode food reccal 24 jam.
Criteria objektif :
Cukup          : bila nilai pengukuran asupan makanan ≥ 80% (AKG)
Kurang         : bila nilai pengukuran asupan makanan < 80% (AKG)
5.    Jarak Kehamilan
Jarak kehamilan yang dimaksud dalam penelitaian ini adalah jarak atau waktu antara kelahiran terakhir dengan kehamilan yang sedang berlangsung saat itu juga. Seorang ibu hamil yang sedang melahirkan dengan jaran kehamilan kurang dari 2 tahun yang mempunyai risiko lebih tinggi di bandingkan dengan ibu yang jarak kehamilannya lebih dari 2 tahun.
Kriteria Objektif :
Renggang    : Apabilah jarak antara kehamilan > 2 tahun
Rapat                        : Apabilah jarak antara kehamilan < 2 tahun

D.   Hipotesis Penelitian

1.    Pengetahuan ibu berhubungan dengan kejadian KEK
2.    Frekuensi makan berhubungan dengan kejadian KEK
3.    Asupan makanan berhubungan dengan kejadian KEK
4.    Jarak Kehamilan berhubungan dengan kejadian KEK

BAB IV
METODE PENELITIAN
A.   Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan Cross Sectional Study yaitu Variabel Dependen (kejadian KEK pada ibu hamil) dan variabel indevenden (Pengetahuan ibu, frekuensi makan, asupan makanan dan jarak kehamilan) diamati pada periode waktu yang sama.
B.   Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Somba Opu Kab. Gowa Tahun 2012
C.   Populasi dan Sampel
1.    Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil yang datang memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Somba Opu Kab. Gowa Tahun 2012.
2.    Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian ibu hamil yang berkunjung ke di Puskesmas Somba Opu Kab. Gowa Tahun 2012
3.    Teknik Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dengan menggunakan accidental Sampling, sampel yang terpilih adalah pengunjung yang datang pada saat penelitian berlangsung.
D.   Cara Pengumpulan Data
1.    Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari Rekam Medik di tempat penelitian di Puskesmas Somba Opu Kab. Gowa Tahun 2012.     
2.    Data Primer
Data Primer diperoleh melalui pengukuran LILA dan wawancara langsung pada ibu hamil dengan menggunakan kuesioner.
E.   Pengolahan Data dan Analisis Data
1.    Pengolahan Data
      Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan komputer Program SPSS untuk analisis hubungan pengetahuan ibu, frekuensi makan, asupan makanan dan jarak kehamilan
2.    Analisis Data
a.    Analisis Univariat
      Analisis Univariat dilakukan terhadap tiap-tiap variabel dari hasil penelitian. Analisis ini menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase tiap variabel yang diteliti.
b.    Analisis Bivariat
      Analisis Bivariat digunakan untuk melihat hubungan dari tiap-tiap variabel independen dan dependen dengan menggunakan uji statistik Chi-Square.


Tabel 1
Tabel Kontigensi 2 x 2
Variabel Independen
Varibel Dependen
Jumlah
Kategori I
Kategori II
Kategori I
a
b
a + b
Kategori II
c
d
c + d
Jumlah
a + c
b + d
a + b + c + d
                  Sumber : Sudigdo, 2011
Untuk mengetahui hubungan antara variabel pengetahuan ibu, frekuensi makan, asupan makanan, dan jarak kehamilan  dengan variabel kejadian KEK digunakan uji Chi-Square dengan rumus:
           
Jika nilai X2 hitung > X2  tabel (3,841) maka Ho ditolak dan p< 0,05 Ha diterima.
Keterangan :
             = Chi kuadrat hasil perhitungan
O = Observasi (nilai yang diamati)
E = Expected (nilai yang diharapkan)
Df = Tingkat kebebasan 95% (0,05)
F.    Penyajian Data
Penyajian data dalam bentuk tabel distribusi frekuensi yang di sertai dengan penjelasan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS